Hal ini membuatnya beralih mengembangkan restoran udon. Dia membuka kedai mi di food court karena merupakan pilihan yang murah, kemudian menambahkan gerai ramen dan mi goreng. Hal ini dia lakukan setelah menyadari bahwa dia dapat melipatgandakan pendapatannya di satu lokasi dengan menawarkan pilihan bersantap yang berbeda.
Sebagian besar ekspansi ini didanai oleh pinjaman bank dan arus kas, hingga perusahaan tersebut cukup besar untuk melantai di bursa pada tahun 2006, di mana saat itu dia memiliki 100 gerai Marugame Seimen.
“Jika wabah flu burung tidak terjadi, saya tidak akan berkembang sejauh ini. Jadi, rasanya kegagalan itu berujung pada kesuksesan yang signifikan,” ucapnya.
Empat dekade kemudian, Toridoll Holdings milik Awata yang terdaftar di bursa saham Tokyo memiliki jaringan hampir 2.000 restoran cepat saji di 28 negara dan wilayah yang mencakup 21 merek.
Perusahaan utamanya adalah Marugame Seimen, jaringan mi udon terbesar di Jepang baik dari segi pendapatan maupun jumlah toko. Keberhasilannya sebagai pengusaha di bidang makanan cepat saji telah menjadikannya miliarder dengan kekayaan 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp17,12 triliun.