Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih
Di sanalah nilai Tata Tentrem Kerta Raharja yang menjadi falsafah Polri menemukan bentuknya, ketertiban dan keamanan yang tumbuh dari ketenteraman dan kesejahteraan sosial, baik kesejahteraan masyarakat maupun anggota.
Dia berdialog, mendengar keluhan, dan membangun kepercayaan jauh sebelum konflik muncul. Karena itu, masyarakat mengenalnya secara personal, memercayainya, dan menganggapnya bagian dari mereka. Kepercayaan itulah yang menjadi modal terbesarnya.
Keberanian ini diuji saat perang suku antarkelompok warga pecah akibat tensi politik pemilian kepala daerah. Di saat panah dan batu beterbangan, Brigadir Amharet melangkah ke tengah medan laga. Tanpa rompi anti-peluru, tanpa senjata, dia berteriak dalam bahasa lokal, memohon perdamaian di tengah desing bahaya.
“Rasa takut untuk kena panah atau batu itu tidak ada,” katanya.
Aksinya bukan tanpa risiko ancaman keselamatan. Dia memahaminya. Bahkan dia pernah terluka di kaki akibat terkena panah yang menjadi saksi bisu pengabdiannya. Namun, sebuah momen mengharukan terjadi. Masyarakat yang bertikai justru membantunya, mereka memotong anak panah dan mengobatinya secara tradisional agar racunnya keluar. Di sana, nyawa Amharet diselamatkan oleh kasih sayang orang-orang yang dia lindungi.
Di Puncak Jaya, ekonomi adalah tantangan tersendiri. Namun, keterbatasan logistik tak menghalangi jemarinya untuk berbagi. Menggunakan uang pribadinya, dia membantu kebutuhan warga tanpa publikasi, tanpa pencitraan.