Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih
Keberaniannya bukan tanpa alasan, selama ini dia menjadi sosok polisi yang melakukan pendekatan humanis dalam penegakan hukum ke masyarakat.
Dia menjalankan tugasnya dengan lebih mengedepankan kasih sayang, empati, dan solusi damai, daripada kekerasan atau penggunaan senjata fisik secara langsung hingga mendapat kepercayaan masyarakat.
Brigadir Amharet menemukan makna terdalam dari Rastra Sewakottama, pedoman hidup bagi setiap Bhayangkara untuk menjadi pelayan terbaik bagi bangsa dan rakyat. Falsafah itu bukan sekadar menjadi bordiran benang emas di seragamnya, namun menjadi detak jantung dalam pengabdian.
Bagi Brigadir Amharet, Rastra Sewakottama bukan kalimat yang dihafal saat pendidikan dan terpatri pada lambang Polri yang selalu dia kenakan, tetapi nilai yang dijalani dalam keseharian. Dia memaknainya sebagai bentuk kehadiran, kesetiaan, dan keberanian untuk melayani masyarakat dengan kasih.
Dia menjadi polisi pelindung hak masyarakat untuk mendapat rasa aman. Menjadi polisi pelayan bagi warga untuk mendapat hak atas rasa aman dan menjadi polisi pengayom sebagai tempat sandaran masyarakat untuk menciptakan rasa aman. Selain itu juga menjadi polisi yang menegakan hukum untuk semua masyarakat.