Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih
PUNCAK JAYA, iNews.id - Seorang polisi berambut gimbal tanpa seragam taktis berdiri di tengah warga saat kabut tebal menyelimuti Kota Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Wajahnya akrab dengan garis-garis senyum masyarakat pegunungan Papua yang kerap menjadi kaku karena konflik.
Dia adalah Brigadir Amharet Rirei, putra asli Papua asal Serui, Biak, polisi humanis yang berani masuk ke tengah pertikaian warga untuk mencegah perang suku.
"Tuhan yang atur semua. Jangan takut terhadap kematian sebab itu akan menghantui kita setiap saat," ujarnya dalam podcast Humas Presisi Polda Papua dikutip Rabu (31/12/2025).
Kalimat ini bukan kepasrahan, melainkan keberanian yang lahir dari iman teguh dan kepercayaan kepada masyarakat yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
Selama 12 tahun, dia mendedikasikan tugas dan kariernya di "Zona Merah" dan tak pernah meminta mutasi. Sejak lulus pendidikan Polri pada Februari 2013, Amharet langsung diterjunkan ke Puncak Jaya, daerah dengan narasi kekerasan lebih sering muncul dibanding cerita tentang kehidupan warganya yang sederhana dan hangat.