Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih
Brigadir Amharet hadir bukan sebagai aparat yang menjaga jarak, melainkan hidup bersama masyarakat sebagai saudara. Dalam kesehariannya, dia tidak menjalani hidup seperti polisi pada umumnya di wilayah konflik.
Dia tidak tinggal di asrama yang dijaga ketat, namun memilih hidup di rumah-rumah warga. Dia jarang mengenakan seragam dinas, memilih untuk menyatu dalam kearifan lokal, meminum kopi bersama para pria, menyapa mama-mama di pasar dan bercanda dengan anak-anak di kebun. Kedekatan ini begitu mendalam hingga identitas kulturalnya melebur.
Rambut gimbalnya pun terbentuk secara alami karena saking menyatunya dengan kehidupan di lapangan hingga tak sempat menyisir rambut. Bagi warga, dia bukan lagi orang luar, melainkan bagian dari keluarga mereka.
"Kalau mau bilang, saya lebih condong ke orang (Suku) Dani," katanya.
Sebagai anggota Intelkam, kekuatannya bukan pada magasin peluru, melainkan pada kepercayaan. Yang membedakannya dari banyak aparat lainnya adalah konsistensi.
Dia berjalan kaki maupun mengendari motor untuk selalu hadir saat warga berkebun, tertawa, dan menjalani hidup sehari-hari. Sebab menurutnya, polisi adalah makhluk sosial yang harus mampu beradaptasi.