Tradisi Pukul Sapu di Maluku, Budaya Luhur Mengenang Kisah Para Pejuang
Meskipun berhasil meloloskan diri, Kapitan Telukabessy tetap dihadapkan pada situasi sulit, yaitu antara menyerahkan diri atau anak buahnya dibunuh kompeni. Akhirnya, Kapitan Telukabessy memilih menyerahkan diri pada Komandan Verheijden pada tanggal 19 Agustus 1646. Oleh Gubernur Gerard Demmer, Kapitan Telukabessy dijatuhi hukuman gantung di Benteng Victoria, Ambon pada tanggal 27 September 1646.
Setelah ditawan selama tiga bulan di Teluk Sewatelu, anak buah Kapitan Telukabessy dibebaskan Belanda. Sebelum berpisah dan kembali ke daerah asal masing-masing, mereka menggelar acara perpisahan yang terbilang heroik dengan menampilkan aneka tari adat, menyanyikan lagu-lagu daerah serta ritual pukul sapu.
Tujuan acara pukul sapu adalah agar tetesan darah dari tubuh mereka yang jatuh dan meresap ke tanah dapat mengingatkan untuk berkumpul kembali di tempat tersebut suatu saat nanti.
Sementara di Desa Mamala, tradisi ini dilakukan secara turun-temurun untuk mengenang keberhasilan warga desa setempat membangun Masjid tanpa menggunakan paku pada abad 17.
Konon usai perang Kapahaha (1637-1646), rakyat Mamala diperintahkan Belanda untuk turun dari gunung (negeri mamala lama) dan mendirikan kampung di pesisir bersama masjid agar mudah diawasi.