Tradisi Pukul Sapu di Maluku, Budaya Luhur Mengenang Kisah Para Pejuang
Tradisi ini pun telah dilakukan dan terus dilestarikan sejak abad 16 atau di masa penjajahan Portugis dan Belanda.
Di Desa Morella, adat pukul sapu ini tidak hanya diikuti pemuda atau orang dewasa. Ada babakan tersendiri yang dikhususkan pesertanya anak-anak.
Jumlah peserta ritual adat ini sebenarnya tidak dibatasi, tetapi disesuaikan dengan kondisi arena yang dipersiapkan. Di Desa Morella jumlah pesertanya dibatasi 60 pemuda yang bertelanjang dada lalu dibagi tiga kelompok atau masing-masing 20 orang per kelompok.
Masing-masing kelompok juga dibagi menjadi dua regu. Mereka hanya menggunakan celana pendek dan berikat kepala. Setiap regu hanya dibedakan warna celana yang digunakan yakni merah dan kuning atau hitam dan kuning.
Sementara di Desa Mamala, satu kelompok pemuda dibatasi 20 orang hingga 30 orang karena lokasi arenanya lebih luas. Kelompok masing-masing dibedakan warna celana merah dan putih.