Tradisi Pukul Sapu di Maluku, Budaya Luhur Mengenang Kisah Para Pejuang
JAKARTA, iNews.id - Mengenal tradisi pukul sapu yang menjadi kebudayaan warga Desa Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Provinsi Maluku. Tradisi ini merupakan budaya luhur sebagai pengingat untuk mengenang para pejuang di Maluku dalam perlawanan saat masa penjajahan.
Mereka menggunakan sapu lidi yang terbuat dari pohon enau. Sapu yang biasanya digunakan membersihkan halaman dengan bentuk ramping dan kecil, namun batangnya dapat menimbulkan sakit jika dipukul ke tangan, kaki atau anggota tubuh lain.
Kendati demikian berbeda dengan warga setempat. Meski dipukul berkali-kali dengan batang lidi yang dalam bahasa Maluku disebut pohon mayang hingga menimbulkan guratan merah di tubuh bahkan mengeluarkan darah, hal tersebut sudah biasa dan lumrah dalam menjalankan tradisi ini.
Kebiasaan saling memukul atau baku pukul dengan sapu lidi ini merupakan salah satu tradisi unik masyarakat bertetangga dan yang memliki pertalian hubungan saudara. Mereka mengenalnya dengan ritual adat 'Pukul Sapu'.
Ritual adat tergolong ekstrem di desa yang terletak di bagian Timur Pulau Ambon tersebut. Biasanya, tradisi ini digelar setiap tahun saat perayaan 7 Syawal setelah umat Muslim selesai merayakan Idul Fitri.