Penuh Drama, Pengasingan Pangeran Diponegoro ke Manado Serupa Napoleon Bonaparte
Perjumpaan Diponegoro dengan laut selama ini hanya sebatas laut selatan, yang itu pun saat berziarah (1805) dan bermeditasi di Goa Surolanang (awal 1825). "Maka bagi Diponegoro terkatung-katung di laut-yang lebih banyak tenang- selama hampir enam minggu tentu bukan pengalaman yang menyenangkan," tulis Peter Carey dalam “Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)".
Letnan Dua Knoerle mencatat secara rinci semua yang terjadi selama pelayaran. Pada lima hari pertama pelayaran, empat orang dari 50 anggota pasukan yang mengawal Pangeran Diponegoro, tewas.
Upacara penguburan dengan pasukan kehormatan berjalan lambat. "Bunyi genderang pengiring upacara terdengar dengan jelas di kamar Pangeran yang letaknya di bawah geladak belakang kapal," tulis Knoerle.
Di atas kapal, Pangeran Diponegoro mengalami situasi kesehatan kurang bagus yang dapat dikatakan buruk. Dia muntah-muntah akibat mabuk laut dan diperparah demam akibat malaria.
Bahkan, pada hari ketujuh pelayaran Pangeran Diponegoro sempat mengatakan, dirinya sudah ikhlas jika harus mati. "Akan tetapi, ia belum berada di ambang maut," kata Knoerle dalam catatan hariannya.