Permainan Tradisional Sunda, Sarat Nilai Positif dan Edukatif
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut delapan dari puluhan permainan tradisional Sunda baik yang masih bertahan maupun telah punah:
1. Oray-orayan

Permainan tradisional Sunda yang paling digemari adalah oray-orayan atau ular-ularan (Bahasa Indonesia). Oray-orayan merupakan permainan tradisional dengan dialog dan nyanyian di antara pemain.
Permainan ini dilakukan oleh 5 sampai 10 anak. Karena itu, untuk memainkannya, oray-orayan membutuhkan area cukup luas. Biasanya di halaman rumah. Saat bermain, anak-anak yang jadi peserta, saling memegang pundak teman di depannya.
Anak yang berada di depan diartikan sebagai kepala ular dan bagian tengah tubuh, dan belakang ekor. Mereka membentuk barisan satu kolom.
Sambil berjalan, mereka menyanyikan nyanyian dengan syair sebagai berikut:
Oray orayan (Ular-ularan)
Luar leor mapay sawah (meliuk-liuk melalui sawah)
Tong ka sawah (jangan ke sawah)
Parena keur sedeng beukah (padinya sedang berisi)
Oray-orayan (ular-ularan)
Luar leor mapay leuwi (meliuk-liuk melalui kubangan air).
Tong ka leuwi (jangan ke kubangan air)
Di leuwi loba nu mandi (di kubangan air banyak yang mandi)
Oray-orayan (ular-ularan)
Oray naon, oray bungka, bungka naon, bungka laut (ular apa? Ular bungka. Bungka apa? Bungka laut).
Laut naon, laut dipa, dipa naon, dipandeuri. (Laut apa? Laut dipa. Dipa apa? di pandeuri (di paling belakang atau ekor)