Industri Media Babak Belur, Jurnalisme Jadi Cahaya di Tengah Gelap
Sementara itu, Abdul Manan dari Dewan Pers, mengingatkan bahwa jurnalisme sedang menghadapi tiga simpul persoalan: kebebasan, profesionalisme, dan bisnis kesejahteraan.
Dalam pusaran disrupsi, perhatian kerap bergeser ke industri konten, meninggalkan jurnalisme seperti “anak hilang”. Padahal, kata dia, ini profesi tua yang harus tetap ada. Ia boleh berubah bentuk, tapi tak akan hilang.
“Ketergantungan saya kira juga pekerjaan rumah tapi dari sisi jurnalisme tantangannya adalah kalau media 2019 setelahnya model jurnalisme yang akhirnya membuat banyak kita itu menjadikan SEO (search engine optimization) sebagai kitab suci untuk menentukan berita layak dan tidak. Kenapa tidak memilih jurnalisme berkualitas?” ujar Abdul.
Ketergantungan media masih menjadi tantangan, terutama untuk tetap menghasilkan berita yang tidak tunduk pada algoritma atau iklan dan berfokus pada produk jurnalistik yang akurat. Selain itu, ada pula persoalan keberanian dalam menghadapi risiko yang muncul dari pemberitaan yang benar.
“Tidak ada pilihan selain 'reset to factory'. Yang diperlukan adalah meng-update 'software', menciptakan 'aplikasi' baru, dan lain-lain untuk memperkuat jurnalisme. Selain itu, perlu dilakukan koreksi internal, seperti meningkatkan keterampilan jurnalis dan manajemen media, serta memengaruhi kondisi eksternal melalui advokasi, edukasi, dan kolaborasi dengan masyarakat sipil,” ucapnya.
Editor: Puti Aini Yasmin