Industri Media Babak Belur, Jurnalisme Jadi Cahaya di Tengah Gelap
JAKARTA, iNews.id – Industri media sedang limbung. Ruang redaksi menyusut, pendapatan tergerus, dan arus informasi kian riuh tanpa kendali. Namun, apakah jurnalisme masih relevan?
Isu ini menjadi bahasan utama dalam talkshow “Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan” di Pesta Media AJI Jakarta 2026 hari kedua di Taman Ismail Marzuki (TIM), Minggu (12/4/2026).
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika melihat persoalan jurnalisme dari hulu yang berbeda. Bukan pada jurnalisme, melainkan pada cara industri menopangnya.
Di era digital, informasi tak lagi langka, justru berlimpah hingga kehilangan konteks. Akal imitasi saat ini memungkinkan segala hal dipalsukan: teks, gambar, video. Di tengah banjir itu, kepercayaan menjadi barang mahal.
Biadab! Serangan Rudal Israel Tewaskan 3 Jurnalis di Lebanon, Mobil Liputan Hangus
“Dari sisi itu kita masih punya harapan ketika kita mengambil model bisnis yang tepat dan mencoba untuk melihat kira-kira dari persoalan ini apa akar masalah yang bisa kita atasi dengan jurnalisme,” ujarnya.