Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Laba-Laba Hantu Pertama di Asia Tenggara Ditemukan di Pulau Jawa
Advertisement . Scroll to see content

Menyusuri Jakarta dengan Mesin Waktu, Berwisata ke Masa Batavia

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:15:00 WIB
Menyusuri Jakarta dengan Mesin Waktu, Berwisata ke Masa Batavia
Papan petunjuk di Museum Bahari, Jakarta (foto: iNews.id/Reza Fajri)
Advertisement . Scroll to see content
Kawasan Museum Fatahillah, Kota Tua (foto: iNews.id/Reza Fajri)
Kawasan Museum Fatahillah, Kota Tua (foto: iNews.id/Reza Fajri)

Ketegangan antara VOC dan penguasa lokal terus meningkat hingga akhirnya pada 1619, Jan Pieterszoon Coen memimpin serangan terhadap Jayakarta. Kota lama dibakar dan dihancurkan. Di atas reruntuhannya, Belanda membangun kota baru bernama Batavia.

Nama Batavia diambil dari Batavieren, suku kuno yang dianggap nenek moyang bangsa Belanda.

Batavia dirancang menyerupai kota-kota di Eropa, terutama Amsterdam. Kanal-kanal digali membelah kota, sementara gudang rempah, kantor dagang, gereja, pasar, dan rumah pejabat VOC berdiri di sekitar pelabuhan.

Pada masa itu, Batavia dikenal sebagai kota perdagangan internasional yang sibuk sekaligus keras. Kapal dari berbagai penjuru dunia datang membawa gula, kopi, teh, kayu dan tekstil.

Namun di balik kemegahannya, Batavia juga terkenal tidak sehat. Kanal-kanal yang dibangun ala Belanda menyebabkan air tergenang di iklim tropis. Wabah malaria dan penyakit tropis kerap menyerang penduduk.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut