Menginjak usia remaja, sang ayah berbicara kepadanya dan membuatnya banting setir menjadi pemain bulu tangkis. Sebenarnya, saat itu Rexy sudah bermain di kompetisi sepak bola antar daerah. Namun situasinya sulit dan perkembangan sepak bola nasional juga belum menuju ke arah yang bagus.
Sang ayah mengatakan bulu tangkis Indonesia itu lebih dikenal dunia. Kalau Rexy bisa menjadi juara nasional, sangat besar peluang menjadi juara dunia. Berbeda dengan sepakbola yang punya 11 pemain, tapi skema permainan rusak jika tak kompak.
Rexy yang saat itu berusia 14 tahun mengikuti saran dari ayahnya. Dia lalu ikut seleksi untuk mewakili Maluku di pertandingan Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI). Dia berhasil maju mewakili Maluku, tapi gagal lolos dari babak grup. Meski begitu, pemerintah Maluku mengusulkannya untuk belajar di sekolah atlet Ragunan.
Pada 1985 Rexy terbang ke Jakarta menyusul sang kakak, Richard Mainaky, yang sudah lebih dulu menginjakan kaki di ibu kota. Rexy menunjukan kegigihan dan keseriusan dalam latihan sehingga dia menjadi penghuni tetap di Ragunan.
Rexy menjuarai Kejuaraan Pelajar se-ASEAN di Singapura. Dia juara di nomor tunggal dan ganda putra. Setelah lulus dari Ragunan, dia hampir bergabung dengan klub raksasa asal kudus PB Djarum. Namun, dia akhirnya bergabung dengan klub Tangkas setelah menerima saran dari Darius Pongoh.