Pemprov Sumut Operasi Modifikasi Cuaca Padamkan Karhutla di Danau Toba

Wahyudi Aulia Siregar
Pemprov Sumut menggelar operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Danau Toba. (Foto: iNews)

MEDAN, iNews.id – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Geopark Kaldera Toba.

Langkah ini dilakukan menyusul penetapan status Siaga Darurat Bencana Karhutla oleh Gubernur Sumut. Kawasan Danau Toba menjadi prioritas utama dalam operasi tersebut karena termasuk wilayah yang paling terdampak karhutla dalam dua bulan terakhir.

“Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumut, kawasan Geopark Kaldera Toba merupakan salah satu yang paling parah terdampak karhutla. Operasi ini sangat mendesak mengingat puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Agustus,” ujar Edison Kurniawan, Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Senin (28/7/2025).

OMC dilakukan dengan penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam dapur murni ke awan-awan potensial menggunakan pesawat. Proses ini bertujuan merangsang turunnya hujan buatan yang diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan memadamkan titik api.

Operasi ini direncanakan berlangsung selama enam hari hingga 31 Juli 2025. Pelaksanaannya merupakan hasil kolaborasi antara BMKG, Pemprov Sumut, TNI Angkatan Udara, dan PT Angkasa Pura.

“Kami mengoptimalkan semua potensi awan di sekitar wilayah Danau Toba untuk menghasilkan hujan buatan yang efektif. Ini penting agar tim pemadam di lapangan mendapat dukungan dari kondisi cuaca yang lebih basah,” kata Edison.

Pelaksanaan OMC dilakukan hanya sehari setelah berakhirnya agenda Revalidasi Toba Caldera sebagai UNESCO Global Geopark, yang digelar pada 21–25 Juli 2025. Kegiatan revalidasi tersebut melibatkan tujuh kabupaten, yakni Toba, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara.

Pemerintah berharap, pelaksanaan OMC dapat menurunkan jumlah titik panas (hotspot) serta mencegah meluasnya kebakaran yang berpotensi mengancam status Geopark Kaldera Toba sebagai warisan dunia.

“Keberhasilan operasi ini sangat penting, tidak hanya untuk pelestarian lingkungan, tetapi juga untuk melindungi sektor pariwisata dan mencegah kabut asap yang bisa membahayakan kesehatan masyarakat,” kata Edison.

Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Polda Riau Ungkap 41 Kasus Karhutla, Jumlah Tersangka Capai 51 Orang

57 tahun lalu

Karhutla di Jambi Meluas, 5 Helikopter dan Pesawat S2R-T34 Dikerahkan untuk Padamkan Api 

57 tahun lalu

Viral Video Air Danau Toba Berwarna Keruh, Pertanda Apa?

57 tahun lalu

Karhutla di Kutai Barat Kaltim, 1 Hektare Lahan Perkebunan Terbakar

57 tahun lalu

Karhutla di Nunukan Hanguskan 3 Hektare Lahan, Api Belum Padam

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal