Perkembangan serupa juga terjadi di dua kota yang menjadi rujukan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumsel, yakni Kota Palembang dan Kota Lubuklinggau. Kota Palembang mengalami deflasi pada September 2020 sebesar 0,05 persen.
"Tapi, angka ini tidak sedalam periode yang sama pada dua tahun lalu yakni 0,16 persen pada 2018 dan 0,40 persen pada 2019. Secara tahunan terhitung Januari-September, Palembang telah mencatat angka inflasi kumulatif 0,98 persen," katanya.
Sementara sebaliknya, di Lubuklinggau justru mengalami inflasi 0,04 persen pada September 2020. Padahal pada periode yang sama dua tahun sebelumnya, daerah ini mengalami deflasi, 0,31 persen pada 2019 dan 0,29 persen pada 2018. Secara kumulatif, inflasi Lubuk Linggau terhitung Januari-September telah mencapai 1,41 persen.
Endang mengatakan, jika diurai dari 11 komoditas yang menjadi indikator inflasi, maka komoditas makanan, minuman dan tembakau tetap menjadi penyumbang utama di dua kota yang menjadi rujukan IHK tersebut. Namun, khusus di tiga bulan terakhir, tiga komoditas yakni telur ayam ras, bawang merah, dan daging ayam ras, menjadi penyumbang terbesar pada deflasi September 2020. Sementara, penyumbang inflasi yakni bawang puting, perhiasan emas dan cabai merah.
“Telur ayam ras mengalami penurunan harga, bawang merah juga turun tajam begitu juga dengan daging ayam ras. Tiga komoditas mengalami penurunan karena selalu dikonsumsi masyarakat, seperti untuk pembuatan pempek dan kue,” katanya.
Menurut Endang, walau terjadi penurunan harga untuk tiga komoditas itu, peternak tetap mengalami keuntungan. Sebab, berdasarkan Nilai Tukar Peternak di Sumsel, angkanya justru terjaga di atas 100 pada September 2020.
“Ini karena didukung oleh terjaganya stok sehingga harga tidak terlalu jatuh. Ini tidak apa-apa,” katanya.