Dengan demikian, dapat dipahami perjalanan pembentukan Papua Selatan demi mewujudkan Tanah Papua menjadi lebih maju ini bukanlah perjuangan membalikkan telapak tangan. Sebaliknya, perjalanan membentuk provinsi yang juga dikenal dengan nama wilayah adat Anim Ha ini memakan waktu sekitar 20 tahun.
Johanes pun menyampaikan, wilayah Papua Selatan merupakan daerah yang dirancang Tuhan di rusuk selatan Tanah Papua. Tanah datar yang begitu luas itu dianugerahi kepada enam suku besar, yakni Marind, Muyu, Mandobo, Awyu, Mappi dan Asmat. Mereka inilah yang menjadi pewaris wilayah Papua Selatan.
Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa di wilayah Papua Selatan, daerah tersebut dihuni suku-suku yang bertahan hidup dengan berburu, meramu dan berkebun. Lalu pada abad ke-19, bangsa Eropa mulai menjajah Pulau Papua. Mereka membelah wilayah tersebut dengan garis lurus yang menyebabkan bagian barat menjadi wilayah Nugini Belanda dan timur menjadi wilayah Inggris.
Meskipun begitu, warga Marind yang dikenal sebagai pemburu kepala kerap melewati perbatasan tersebut sehingga pada tahun 1902, seperti yang dimuat pula dalam laman Wikipedia, Pemerintah Belanda mendirikan pos militer di ujung timur Papua Selatan.
Pos yang berada di sekitar Sungai Maro itu didirikan untuk memperkuat perbatasan dan memberantas tradisi berburu yang dilakukan warga Marind. Di samping itu, Belanda juga menjadikannya sebagai tempat penyebaran agama Katolik yang ditujukan pula untuk menghentikan tradisi pemburuan kepala oleh warga Marind.