Dia mengaku kerap dijadikan tameng untuk melindungi adik-adiknya dari kemarahan dan ancaman pelaku.
“Kalau saya tidak ikut, adik-adik jadi sasaran. Saya yang harus menahan semua ini supaya rumah tidak kacau,” katanya.
Kondisi keluarga membuat VW merasa tidak memiliki pilihan lain. Salah satu adiknya diketahui mengalami autisme, sehingga ia terpaksa kembali tinggal bersama pelaku.
“Saya mau tidak mau harus balik ke rumah. Saya tidak bisa tinggalkan dia,” ucapnya.
Menurut pengakuannya, puncak kekerasan terjadi beberapa hari sebelum kesaksiannya disiarkan hingga viral di media sosial. Dia menyebut pelaku berada dalam kondisi mabuk berat selama 2 hari berturut-turut.