Kemal Idris pun memutar otak. Dia tahu, harus berusaha mencari tambahan penghasilan. Dia melakukan berbagai pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Salahnya, yang dia pilih jadi penjudi.
"Saya main judi untuk memperoleh uang. Kami main judi di rumah, sehingga saya dapat uang tong. Kalau main judi di rumah, sebagian uang tarikan itu diberikan kepada tuan rumah. Kalau saya menang bermain judi, maka sebagian uang saya berikan kepada istri saya," katanya.
Suatu hari, Kemal Idris sadar dan bertanya pada diri sendiri. Kenapa dia harus bermain judi untuk menambah penghasilan?
Apalagi, gara-gara masalah ekonomi itu, dia sering marah dan naik pitam. Kemal Idris sering membentak anaknya yang masih duduk di SMP.
Sang istri, Herwinoer Bandriani Singgih atau Winoer Idris, ternyata memperhatikan perubahan yang terjadi padanya. Suatu hari, dia memanggil Kemal Idris.