Kegiatan yang digagas sejak 2017 ini, sudah mengumpulkan 10 orang anggota. Semua anak didiknya merupakan bocah-bocah yang dulunya bermasalah, mulai dari pengguna narkoba, tukang mabuk miras, hingga yang mengalami depresi.
"Kami juga dinaungi Puskesmas Gitik untuk proses pemulihan anak-anak," katanya.
Pihak puskesmas awalnya memberikan terapi berkala, mulai dari mengurangi dosis obat yang dikonsumsi, meminimalisasi intensitas pemakaian obat, sampai mengalihkan hasrat mereka mengonsumsi obat-obatan.
Kepala Bidang Program Kesehatan Jiwa Masyarakat Puskesmas Gitik, Eko Budi Cahyono mengatakan, kelompok seni dari sanggar milik Mulyono sudah mulai aktif sejak dua tahun lalu.
"Mereka sekarang ramai tanggapan buat sunatan atau acara resepsi pernikahan," kata Eko.
Pegawai Puskesmas Gitik memamerkan hasil kerajian para pemuda mantan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. (Foto: iNews.id/AM Ikhbal).