"Dia bisa hidup lagi ketika tubuhnya menyentuh tanah," begitu yang tertulis dalam “Wali Berandal Tanah Jawa”.
Setiap kesaktian selalu ada pengapesannya. Ada masa nahasnya. Ada titik lemahnya. Kumpeni terus memutar otak menelusuri kelemahan Boncolono. Desas-desus yang mereka dengar, Boncolono menguasai ilmu pancasona atau rawa rontek. Sebuah ilmu kuno yang pemiliknya sulit menemui ajal. Setiap mati akan hidup kembali selama anggota tubuhnya menyentuh tanah.
Meski tubuhnya dicincang, pemilik ilmu rawa rontek akan bangkit kembali selama bagian badan yang terpotong bersentuhan satu sama lain. Kumpeni Belanda memutuskan menggunakan kekuatan uangnya. Sayembara digelar. Kepada siapa saja yang berhasil membekuk Boncolono hidup atau mati, kumpeni akan memberi imbalan besar.
Sayembara menarik perhatian sejumlah pendekar pribumi. Mereka mengetahui rahasia kelemahan ilmu Ki Boncolono dan siap menukar dengan imbalan uang besar. Kompeni bergerak melakukan penggerebekan. Ki Boncolono yang dalam keadaan terkepung, akhirnya berhasil diringkus. Atas bocoran rahasia dari pribumi peserta sayembara, kompeni Belanda memotong tubuh Ki Boncolono menjadi dua bagian.
Kesaktian rawa rontek tidak akan berfungsi selama tubuh yang terpotong tersebut, dipisahkan oleh sungai. Dalam catatannya, George Quinn, penulis “Wali Berandal Tanah Jawa” mendatangi bukit Maskumambang. Sebuah kawasan perbukitan bukit yang cukup tinggi, yang berada di wilayah Kecamatan Mojoroto, ujung barat Kota Kediri. Kawasan ini berlokasi di sebelah barat Sungai Brantas.