Dalam “Wali Berandal Tanah Jawa” tertulis, Maling Gentiri memiliki saudara tua yang bernama Maling Kapa. Dua bersaudara ini merupakan maling sakti yang selalu beroperasi di malam hari. Keduanya adalah murid Sunan Ngerang, seorang ulama besar di kawasan pesisir Juwana, Jawa Tengah. Mereka mengunduh ilmu kesaktian dari gurunya, dan hanya menyasar orang-orang kaya yang zalim.
"Sebagai hamba agama yang saleh, tentu saja hasil perampokan mereka dibagikan kepada fakir miskin dan orang yang sedang mengalami kesusahan," demikian yang tertulis dalam “Wali Berandal Tanah Jawa”. Di Kediri, ulah Ki Boncolono atau Maling Gentiri membuat kaki tangan kompeni kelabakan. Mereka tak menyangka bakal mendapat gangguan yang bertubi-tubi.
Apalagi saat Tumenggung Mojoroto dan Tumenggung Poncolono beserta murid-muridnya menyatakan menjadi sekutu Ki Boncolono. Aksi penjarahan semakin menjadi-jadi. “Belanda pun marah dan memerintahkan antek-anteknya mengejar hidup atau mati," demikian cerita tutur yang beredar.
Boncolono harus ditangkap hidup atau mati. Begitu tekad antek-antek kumpeni Belanda. Namun meringkus Boncolono bukan perkara mudah. Boncolono dicintai rakyat. Saat terkepung, pencuri budiman tersebut selalu berhasil meloloskan diri. Konon, cukup mengandalkan seberkas cahaya, dia bisa menyusup ke dalam bangunan melalui lobang sekecil apa pun.
Begitu juga saat terkepung. Cukup merapatkan diri ke tembok, tiang, atau pohon di dekatnya, Boncolono akan lenyap dalam sekejap. Boncolono konon juga kebal senjata. Dia seperti tidak merasakan peluru-peluru yang memberondong tubuhnya. Kalau pun ambruk, ia akan hidup lagi, sehat seperti sedia kala.