Kuah Glewo menurut Fatimah dan Qomariah merupakan air rebusan daging yang telah dicampur santan saat memasaknya. “Rasanya akan sedep kalau kuahnya terdapat kaldu daging, terutama daging yang ada sandung lamurnya,” ujar Fatimah.
Untuk menyantapnya, menurut Qomariah umumnya menggunakan kerupuk terung. Namun sekarang ini ada yang menggunakan emping mlinjo. “Kalau dulu emping termasuk makanan mahal. Jadi kalau tidak kerupuk terung ya kerupuk gendhar,” ujarnya.
Tiga narasumber ini cukup menjadi rujukan otentiknya resep Glewo, meski diakui banyak yang mengklaim olahan Glewo tapi cita rasanya beda dengan Glewo yang melegenda puluhan tahun lalu.
Kini ada banyak yang mungkin membuat sendiri resep Glewo dengan mereka-reka atau memodifikasi. Ada yang meracik Glewo menggunakan Kencur, Kemiri, Merica dan sebagainya. Namun dari penelusuran resep warisan ini ditemukan kesimpulan bahwa warga Semarang kuno sangat simpel dan sederhana dalam mengolah masakan.
Asem sering ‘mewarnai’ atau digunakan di setiap olahan masakan khas Semarang. Selain Glewo, di antaranya Blohar Kaki Kambing, Pindang Srani, Kuah Lada, hingga pepes ala Semarang pun juga menggunakan asem.