Di daerah ini ternyata juga sangat dikenal sebagai daerah lahirnya kuliner khas Kota Semarang. Seperti Bustaman sangat dikenal sebagai tempatnya jagal Kambing yang melahirkan Gule khas Bustaman dan Bestik Kambing, yang didaerah lain belum tentu ada dan dikenal.
Qomariah (64), salah satu warga asli Bustaman dan kini memiliki warung makan Gule Kambing Bustaman di Jalan Mataram, tak jauh dari Jalan Petudungan. Qomariah juga paham terhadap masakan Glewo, karena tempo dulu orang tuanya sering memasak Glewo untuk sajian makan keluarga.
“Glewo sudah ada sejak saya kecil di Kampung Bustaman. Cuma dulu masaknya kadang pakai daging koyor sapi, tapi seringnya hanya menggunakan potongan tahu dan tempe, “ kata Qomariah.
Suami dari Bibit (66) yang juga warga asli Bustaman ini mengaku Glewo merupakan masakan orang berada, sebab kala itu umumnya menggunakan daging sapi yang berlemak atau koyor. Sedangkan di kalangan masyarakat bawah umumnya hanya menggunakan potongan tempe dan tahu.
“Glewo merupakan olahan daging sapi, tempe dan tahu berkuah santan dan citarasanya pedes kecut, sekilas memang mirip mangut. Cirinya menggunakan asem kranji atau asem kawak. Dulu asemnya bisa ngambil di jalan-jalan karena banyak pohon asem di Semarang. Kalau asem yang lama disimpan di dapur, Namanya asem kawak,” ujarnya.