Sunda Wiwitan, Kepercayaan Monoteisme Warisan Leluhur

Agus Warsudi
Masyarakat adat Kasepuhan Cireundeu Sukabumi menggelar upacara Seren Taun. (FOTO: Ilham Nugraha)

- Welas asih: cinta kasih
- Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
- Tata krama: tatanan perilaku dalam bermasyarakat.
- Budi bahasa dan budaya
- Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya. Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut, manusia pasti tidak akan melakukannya.

Prinsip kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang mempunyai kesamaan. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri Bangsa yang terdiri dari:

- Rupa
- Adat
- Bahasa
- Aksara
- Budaya

Kedua prinsip itu, Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa, tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan yang bernama Siksa Kandang karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani kehidupan dari apa yang tersirat. Yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.

Awalnya, Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua. Yaitu, yang tidak disenangi orang lain dan yang membahayakan orang lain dan yang bisa membahayakan diri sendiri.

Akan tetapi karena perkembangannya, untuk menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan, yang disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian aturan mengenai tradisi bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu paling banyak diamalkan oleh mereka yang tinggal di kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy Dalam.

Editor : Agus Warsudi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Sejarah Nama-Nama yang Pernah Disandang Jakarta, dari Zaman Kerajaan Sunda hingga Kemerdekaan

57 tahun lalu

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Erupsi, Ketinggian Abu Vulkanik 5 Ribu Meter

57 tahun lalu

Iwan Bule Apresiasi Destinasi Wisata Kuliner Sunda Milik Tokoh Kultural Jabar Eka Santosa

57 tahun lalu

Sejarah Nama Jagakarsa Jaksel, Utusan Kerajaan Mataram yang Melawan Portugis di Sunda Kelapa

57 tahun lalu

Kisah Perang Hebat di Tanah Sunda Bikin Kerajaan Galuh Terpecah Jadi 2

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal