Nabi pun melepas ikatan di leher hewan tersebut. Setelah dilepas, kijang itu berlari kencang melintasi padang pasir hingga debunya beterbangan. Sementara Nabi dan para sahabat menunggunya kembali sesuai janji.
"Kata Nabi, 'saya tidak berhak melepaskan engkau karena engkau sudah dimiliki orang yang punya ini'. (Kijang) 'Saya berjanji Ya Nabi, saya akan kembali ke tempat ini setelah aku memberi air susu terhadap anak-anakku'. Begitu sayangnya Nabi terhadap binatang dan saya kira semua tokoh agama juga sayang-sayang sama binatang dan alam semesta," ucapnya.
Setelah menyusui anaknya, kijang tersebut kembali ke hadapan Nabi Muhammad dan meminta agar ikatan di lehernya dipasang kembali. Namun saat itu, sang pemilik kijang melihat aksi yang sedang dilakukan Nabi Muhammad.
Pemilik Kijang justru menawarkan hewan tersebut kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk penghormatan dan ketulusan. Bahkan, sang pemilik akan merasa bangga bila Nabi Muhammad berkenan menerima pemberian itu.
Dari hal tersebut, Nasarudin memetik sebuah pembelajaran. Bila hadiah yang diberikan oleh seseorang dengan penuh ketulusan, tidak bisa disebut sebagai bentuk gratifikasi.
"Ini pembelajaran Bapak Ibu, kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih," sambungnya.
Setelah itu, Nabi Muhammad membawa sendiri kijang pemberian tersebut tanpa meminta bantuan sahabatnya. Namun di tengah perjalanan, Nabi Muhammad justru melepaskan kijang itu agar dapat kembali membesarkan anak-anaknya.