Kembali pada karya-karya realis yang diciptakan dengan tendensi imitatio Dei bertahap itu, tampilannya juga dapat disaksikan sebagai karya perfilman. Anton Bitel (2022) dalam "10 Great Robot Films" mencatat, istilah "robot" pertama kali digunakan dalam drama karya penulis Czech, Karel Čapek, pada tahun 1920. Judulnya "RUR, Rossum's Universal Robots". Dalam bahasa Čapek, robot berarti buruh atau budak. Pengertian ini sesuai dengan posisi narasinya, robot adalah automata mekanis yang dirancanang untuk menjalankan tugas-tugas manusia sebagai majikannya. Film bertema robot pertama, menurut Bitel, adalah "The Golem: How He Came into the World" (1920) karya Paul Wegener dan Carl Boese. Disusul Metropolis (1927) karya Fritz Lang. Sementara Ex Machina (2014) karya sutradara Alex Garland tercatata sebagai karya penting ke-10 dalam ulasan Bitel.
Dari ulasan tersebut terlihat adanya konsistensi narasi dalam merepresentasikan imitatio Dei sebagai robot dalam film. Kemampuan robot menyerupai manusia memang dapat diuji melalui Turing Test, Voight-Kampff, dan berbagai metode lainnya. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, film-film tersebut berpola serupa, secara bersamaan juga menguji kemanusiaan karakter nonrobot di sekitarnya.
Karakter nonrobot itu termasuk penonton yang diukur tanggapan emosionalnya, berdasar kisah yang ditampilkan di layar. Indikasinya jangkauan empatinya, bahkan ketika seluruh kisahnya fiksi belaka. Robot-robot yang tampil dibandingkan penonton, merepresentasikan batasan kemanusiaan yang kabur. Robot memang berbeda dari manusia, tapi punya hal yang serupa. Baik manusia maupun robot, sering menginginkan "yang dimiliki" pihak lain. Robot menginginkan yang dimiliki manusia, kebebasan, perasaan, maupun bentuk fisiknya. Ini akhirnya menciptakan persaingan robot dengan manusia. Begitu polanya.
Pola relasi robot dengan manusia tersebut diuraikan Aaron Prather (2025) dalam Hollywood vs. The Robotics Industry". Hollywood sejak lama menggambarkan robot dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai ciptaan yang mengagumkan sekaligus mengancam umat manusia. Narasi ini membentuk persepsi khalayak, sehingga sering memaknai robot dengan curiga. Namun pada kisah lainnya tak terhindarkan, adanya visi penuh harapan. Robot sebagai penolong dan pendamping, menambal kelemahan manusiawinya. Tampaknya, Hollywood menggambarkan relasi robot dengan manusia dalam pola cinta dan benci. Seluruhnya itu, representasi dari perasaan manusia itu sendiri.
Yang tergambar jelas dari seluruh penampilan robotnya, ada pergeseran. Robot ditampilkan makin biologis. Saat sebelumnya robot hadir sebagai artefak nonbiologis, penuh logam, gerakan berat kaku yang terpatah-patah dan suara mendengung hasil pabrikasi mesin, maka dalam "The Terminator" (1984), ciri biologisnya menonjol. Jaringan hidup seperti kulit, pembuluh darah yang menonjol di bagian luar tubuh, menutup struktur dalam artefak teknologis ini. Ciri biologis itu makin nyata pada serial "Better Than US" yang diedarkan di Rusia pada 2018. Alih-alih sekadar cantik dan adaptif terhadap perasaan manusia, robot Arisa juga mampu mengekspresikan tindakan emosi kecemburuan dan melindungi "keluarga".