Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org
MENIRU “yang alamiah” tampaknya merupakan hasrat yang melekat pada manusia dalam mewujudkan eksistensinya. Peniruan ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan tubuhnya sendiri hingga melibatkan perangkat untuk menghasilkan artefak teknologis. Melukis: menyalin keindahan bunga dan bentang alam; menari: mengimitasi gerakan satwa yang sedang mempersiapkan keturunan; menulis sastra maupun teater: sebagai upaya membangun pemahaman imajinatif tentang kehidupan.
Menciptakan karya realis (semirip yang alamiah) sebagai representasi eksistensialisme mencapai puncaknya ketika manusia mampu menciptakan tiruan dirinya sendiri. Sejarah panjang menunjukkan bahwa peniruan yang kian kompleks mewadahi hasrat imitatio Dei. Manusia selalu ingin menirukan kemampuan Tuhan, termasuk kemampuan mencipta-Nya. Upaya ini ditempuh dengan meniru yang alamiah, hidup, berakal, bahkan menyerupai dirinya. Robot adalah salah satunya.
Penciptaan robot sebagai imitatio Dei ini senada dengan pernyataan Misa Rygrova (2018) dalam "I, Robot — We, God". Dia menyebutkan, saat manusia mengajari robot menjadi seperti dirinya, mereka berperan sebagai Tuhan. Menciptakan sesuatu yang sesuai dengan penampilan dan seleranya. Bahwa ciptaan tersebut kelak akan memakan apel dan memahami perbedaan antara yang baik dan yang jahat, hanya masalah waktu.
Pernyataan tersebut dapat ditafsirkan bahwa peniruan merupakan hasrat untuk menyerupai Tuhan sebagai modus eksistensial. Prosesnya berjalan bertahap dan kian lama kian berkembang. Seiring waktu, kemampuan itu makin serupa dengan kemampuan Tuhan. Rygrova menambahkan, manusia tampaknya tidak mampu menghentikan dirinya sendiri. Mereka ingin berpura-pura tidak bodoh dengan semua yang dilakukannya. Manusia tampak lebih baik daripada sebenarnya, karena itu nyaman dan mudah. Peniruan adalah perilaku panjang manusia yang tak ada titik hentinya, bertendensi mewujudkan kemanusiaannya.