Aksi Artificial Intelligence Memerangi Korupsi
Firman Kurniawan S
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org
MENYELENGGARAKAN sebagian tugas pemerintahan dengan memanfaatkan sistem digital yang menggantikan peran manusia bukan perkara baru. Seiring pengembangannya, sistem ini makin luas digunakan lantaran efisiensi, kecepatan maupun ketahanan kerjanya yang sering lebih unggul dari manusia.
Mulai dari pengadaan pemerintah, permintaan SIM, layanan imigrasi, hingga informasi destinasi wisata, mengalami transformasi digital. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Brasil, China, Estonia, Inggris, India, Irlandia, Kenya, Malaysia, Rwanda Singapura, dan tak ketinggalan Indonesia, telah menggunakan sistem terdigitalisasi untuk memenuhi berbagai keperluannya, termasuk pengadaan.
Pada digitalisasi pengadaan tujuannya jelas, percepatan proses dan transparansi. Sistem yang terdigitalisasi, mampu membaca ribuan dokumen dalam waktu singkat yang akan lama jika dilakukan manusia. Yang terpenting dari itu, tercapainya transparansi. Transparansi terjadi, sejak syarat sebagai pemasok ditetapkan, indikatornya jelas dan keputusannya dapat diakses semua peserta lelang. Ruang-ruang subjektivitas akibat kedekatan calon pemasok dengan penyelenggara pemilihan maupun dipilih karena menyuap, dieliminasi oleh sistem.
Seluruhnya ini, sebenarnya telah lama jadi bagian dari penyelenggaraan pemerintahan di dunia. Namun, jadi menarik ketika sistem itu berbasis artificial intelligence (AI) sekaligus dirupakan sebagai manusia virtual. Albania pada 11 September 2025 mengumumkan Diella, robot AI, sebagai salah satu pejabat pemerintahannya. Ini menjadi yang pertama di dunia. Langkah serupa sebelumnya dilakukan China pada awal September 2025 dengan mengangkat sistem berbasis AI menjadi menteri penuh di negara itu. Memang tak dirupakan sebagai manusia virtual.
Robot AI Albania yang arti namanya matahari, ditampilkan sebagai perempuan berpakaian khas negaranya, menjabat menteri pengadaan. Kementeriannya dikenal sebagai sarang korupsi. Negara berpenduduk kurang dari 3 juta orang itu, memang digerogoti korupsi yang parah. Keparahan yang bahkan mencegahnya bergabung sebagai negara Uni Eropa (UE). Dengan berharap menyembuhkan penyakit memalukan itu, Diella dipekerjakan.