Paradoks Robot Biohibrida: Memenuhi Hasrat Eksistensi vs Ancaman Kepunahan

iNews
Dr. Firman Kurniawan S., Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital & Pendiri LITEROS.org. (Foto: Dok Pribadi)

Seberapa mungkin teori di atas dapat diwujudkan? Sangat mungkin, tegas Madgula. Pada 2014, peneliti dari Universitas Illinois berhasil menciptakan robot renang mikroskopis dari sel otot jantung tikus. Pada 2016, peneliti dari Harvard melangkah jauh dengan membuat "hewan" biohibrida pertama, berupa seekor ikan pari sepanjang 16 mm. Makhluk ini bertubuh elastomer dengan kerangka emas dan otot yang juga terbuat dari sel tikus. Bentuk tubuh yang memungkinkannya meluncur di air, dengan gerakan yang dikendalikan cahaya. Sedangkan yang terbaru, pada tahun 2024 tim dari Universitas Tokyo merancang robot biohibrida kecil yang dapat berjalan dengan cara jalan manusia. Karenanya, walaupun keberadaannya masih berskala laboratorium, robot-robot biohibrida itu telah hadir di tengah peradaban manusia. Maka persoalan berikutnya, apakah umat manusia siap untuk menghadapinya, seraya mampu benar-benar berbagi kehidupan dengan robot-robot itu? 

Jawabannya mungkin tergambar sebagai temuan uncanny valley, lembah ketaknyamanan, yang dikemukakan ahli robotika Jepang, Masahiro Mori pada tahun 1970. Dalam "What to Know About the Uncanny Valley: Why AI and Computer Generated Characters Often Look So Creepy" tulisan Kendra Cherry, 2025, disebutkan fenomena yang disebut Mori sebagai bukimi no tani genshō. Yaitu ketika orang-orang menganggap robot buatannya lebih menarik jika tampak lebih manusiawi.

Namun ketertarikan itu bertahan hingga di titik tertentu, yang kemudian diganti oleh munculnya lembah ketidaknyamanan. Orang-orang merasa tidak nyaman, terganggu, dan terkadang merasa takut ketika artefak teknologis itu makin menyerupai dirinya. Ketidaknyamanan yang serupa tanggapan evolutif, menolak ancaman penyakit maupun kematian. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang menyerupai manusia tetapi tak sepenuhnya hidup, terbangkitkan perasaan seakan bertemu dengan yang mati atau sekarat. Ini tidak nyaman. 

Bisa jadi ketidaknyamanan itu disebabkan oleh terancamnya eksistensi manusia. Sifat biologis dari yang teknologis, mengancam dirinya. Paradoksnya, saat manusia mampu mewujudkan eksistensi diri dengan menciptakan tiruan yang serupa dirinya, di saat yang sama pula terancam eksistensinya. Namun diuraikan Masahiro Mori, dari semua proses dan relasi yang panjang, lembah akhirnya terlewati. Manusia mampu menoleransi keberadaan robot-robot di tengah hidupnya. 

Namun tetap paradoks bukan? Atau manusia memang makhluk paradoks?

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Sains
3 bulan lalu

Kembangkan Robot AI, Hyundai Gandeng Google DeepMind dan NVIDIA

Nasional
6 bulan lalu

Dapatkah Rasionalitas Berpikir Bertahan di Zaman Artificial Intelligence? 

Nasional
7 bulan lalu

Aksi Artificial Intelligence Memerangi Korupsi

Nasional
9 bulan lalu

"Efek Kupu-Kupu" Artificial Intelligence pada Nasib Peradaban

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal