Sebelumnya, Juru Bicara JK, Husain Abdullah mengatakan, video pernyataan JK dalam ceramah di Masjid UGM pada 5 Maret 2026 diduga telah terpotong dan diberi narasi yang melenceng. Husain mengatakan agar pihak pelapor terlebih dahulu mengkaji secara utuh konteks pernyataan yang beredar.
Menurut Husain, inti ceramah JK pada 5 Maret lalu merupakan pembelajaran tentang cara mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, merujuk pada pengalaman konflik di Poso dan Ambon. JK saat itu mengungkapkan realitas sosiologis yang berkembang di tengah konflik, di mana kedua pihak baik Muslim maupun Kristen, menggunakan jargon agama untuk membenarkan tindakan kekerasan.
"Inti pesan yang disampaikan Pak JK saat ceramah di UGM adalah semacam pembelajaran bagaimana mendamaikan dua pihak yang bertikai. Pak JK mengungkapkan pendapat orang-orang yang bertikai saat kerusuhan Poso dan Ambon atau realitas sosiologis saat terjadi konflik, bukan pendapat pribadi Pak JK," kata Husain kepada iNews.id, Senin (13/4/2026).
"Realitasnya saat itu, kedua pihak yang berkonflik (Islam dan Kristen) menggunakan jargon agama untuk saling membunuh. Pemahaman mereka atau mereka beranggapan, baik yang Islam maupun yang Kristen jika membunuh lawan atau terbunuh akan masuk surga," katanya.
Konflik Poso dan Ambon, kata Husain, merupakan konflik bernuansa SARA yang sulit dihentikan dan menelan ribuan korban jiwa, yakni sekitar 2.000 orang di Poso dan 5.000 di Ambon. Dalam ceramahnya, JK menegaskan pemahaman yang berkembang saat itu harus diluruskan, karena saling membunuh tidak dibenarkan dalam agama mana pun.
"Maka Pak JK mengatakan Anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian," tambah Husain.
Husain menegaskan, apa yang disampaikan JK bukanlah pendapat pribadi, melainkan gambaran kondisi nyata yang berkembang saat konflik, sekaligus pendekatan yang digunakan untuk meredam pertikaian.