Jusuf Kalla, Makna Syahid, dan Pentingnya Menjaga Narasi Perdamaian

Tim iNews.id
Ketua Umum Pertama Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia Febrian Amanda, SHi. (Dok. Pribadi)

Febrian Amanda
Ketua Umum Pertama Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia

DI TENGAH derasnya arus media sosial, kita semakin sering menyaksikan bagaimana satu potongan video mampu mengubah makna, membelokkan niat, bahkan melukai persatuan bangsa.

Viralnya cuplikan pidato Bapak Jusuf Kalla yang kemudian ditafsirkan seolah-olah beliau menyebut bahwa “Islam dan Kristen berpendapat mati atau mematikan dalam pertikaian adalah syahid” perlu diluruskan secara jernih, adil, dan utuh.

Menurut hemat saya, pernyataan tersebut sama sekali tidak layak dibaca sebagai tudingan terhadap ajaran agama tertentu, apalagi sebagai bentuk provokasi kepada umat Kristiani.

Yang dimaksud Pak JK, apabila dibaca dalam konteks sejarah konflik Ambon dan Poso, bukanlah doktrin agama, melainkan cara berpikir sebagian oknum atau pihak-pihak yang pada saat itu terlibat dalam pertikaian berdarah.

Inilah titik yang sangat penting untuk dipahami. Beliau tidak sedang mengatakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Beliau juga tidak sedang mengatakan bahwa ajaran Yesus membenarkan pembunuhan.

Editor : Puti Aini Yasmin
Artikel Terkait
Internasional
8 jam lalu

Perundingan Damai AS-Iran Berakhir Gagal, Terganjal Isu Nuklir

Internasional
9 jam lalu

Ini Penyebab Perundingan AS-Iran Gagal Sepakati Perdamaian

Internasional
11 jam lalu

Wapres JD Vance: AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai

Internasional
13 jam lalu

Kapal Perang AS Dilaporkan Mulai Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Ini Kata Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal