Oleh pihak bank, Fida akhirnya diminta untuk menghubungi customer service untuk memulihkan akunnya yang diblokir. “Untungnya, karena rekening saya itu masih baru, belum ada isinya,” tutur warga Depok, Jawa Barat, itu.
Lain lagi ceritanya dengan Dedi. Lelaki yang bekerja sebagai guru di sebuah sekolah menengah negeri di Payakumbuh, Sumatra Barat itu pernah beberapa kali menerima pesan lewat WA dari nomor asing yang mengatasnamakan petugas Bank BRI. Isi pesannya berupa pemberitahuan tentang perubahan tarif transfer ke bank lain, dari yang tadinya kena potongan Rp6.500 per transaksi menjadi Rp150.000 per bulan.
Si pengirim pesan juga meminta nasabah untuk melakukan “konfirmasi” dengan mengisi formulir yang menyatakan penolakan atau persetujuan atas kebijakan perubahan tarif tersebut di atas. Padahal, jika nasabah mengisi formulir itu, si pengirim pesan dapat mengakses atau membobol rekening nasabah.
Dalam beberapa bulan terakhir, Dedi sudah tiga kali mendapatkan pesan semacam itu dari nomor yang berbeda. Seolah-olah ingin meyakinkan calon korbannya, para pelaku bahkan menggunakan gambar logo Bank BRI sebagai foto profil WA mereka.
“Istri saya juga pernah mendapatkan pesan yang sama, padahal bukan nasabah BRI. Kalau saya sendiri memang nasabah BRI,” tutur ayah tiga anak itu.