Ketiga, komunikasi yang masih satu arah. Model komunikasi pemerintah masih banyak bersifat monologis, mengumumkan, bukan berdialog. Padahal, teori two-way symmetrical communication (James Grunig) menegaskan bahwa efektivitas komunikasi justru lahir dari interaksi dua arah yang saling menghargai umpan balik. Gen Z menilai pemerintah bukan dari seberapa sering bicara, tapi seberapa mau mendengar.
Dalam konteks IMC, publik bukan lagi sekadar penerima pesan, melainkan co-creator makna. Pemerintah seharusnya membuka kanal aspirasi digital, forum interaktif, kolom tanya jawab, atau sesi live streaming dengan pejabat publik, sehingga warga merasa dilibatkan, bukan digurui.
Rebranding Komunikasi Publik
Komunikasi publik modern bukan lagi soal penyiaran kebijakan, melainkan membangun hubungan dan kepercayaan (relationship and trust building). Pemerintah dapat menerapkan prinsip IMC dengan beberapa langkah konkret:
Di era kelebihan informasi, kecepatan bukan lagi keunggulan, kepercayaanlah yang menjadi mata uang utama. Pemerintah yang mampu memadukan empati, konsistensi, dan keberanian untuk mendengar akan mendapatkan loyalitas emosional dari publik muda.
Penutup
Generasi Z bukan hanya target sosialisasi, tetapi mitra strategis dalam membangun masa depan bangsa. Mereka memiliki kreativitas, jejaring, dan pengaruh yang dapat memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah, asal didekati dengan cara yang benar.
Sudah saatnya pemerintah melakukan rebranding besar-besaran terhadap komunikasi publiknya. Bukan dengan bahasa gaul yang dipaksakan, tetapi dengan kejujuran, relevansi, dan kemauan beradaptasi. Jika komunikasi lama bertumpu pada hierarki, maka komunikasi masa depan harus bertumpu pada kolaborasi. Karena pada akhirnya, komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan membangun makna bersama.
Makna tidak akan pernah lahir dari monolog. Makna tumbuh dari dialog, kepercayaan, dan kesetaraan, tiga hal yang paling dicari Gen Z dari pemerintahnya hari ini.