Fenomena serupa berulang dalam kasus pengibaran bendera One Piece oleh mahasiswa, yang semestinya dibaca sebagai ekspresi simbolik khas anak muda. Namun sebagian pejabat menanggapinya sebagai ancaman. Reaksi berlebihan ini menunjukkan bahwa sebagian pengambil kebijakan belum memahami bahasa simbolik generasi baru, bahasa yang sarat metafora, humor, dan ironi.
Bagi Gen Z, komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan, melainkan cara membangun identitas bersama. Mereka menghargai transparansi, spontanitas, dan keberanian mengakui kesalahan. Pemerintah yang terlalu kaku dan penuh jargon birokratis mudah dianggap tidak jujur atau tidak relevan dengan realitas mereka.
Analisis dari Sudut Pandang IMC
Dari perspektif Integrated Marketing Communication (IMC), setidaknya ada tiga kesalahan mendasar dalam komunikasi publik pemerintah terhadap Gen Z.
Pertama, lemahnya segmentasi audiens. IMC menekankan pentingnya memahami karakter setiap segmen. Gen Z bukan sekadar “pemuda”, melainkan generasi yang hidup dalam ekosistem digital, kritis, multitasking, dan terbiasa menyaring informasi dalam hitungan detik. Tanpa riset khalayak yang mendalam, pesan pemerintah mudah kehilangan relevansi.
Kedua, kurangnya integrasi antar-kanal komunikasi. Pesan pemerintah sering tidak selaras antara kementerian, bahkan antara pejabat satu dan lainnya. Di televisi bicara A, di media sosial muncul B. Dalam prinsip IMC, pesan yang efektif harus konsisten di seluruh kanal, baik melalui siaran resmi, situs web, maupun platform digital. “One voice, multiple channels.”