“Oke kalo gitu, Ibu nggak akan ngajar kalian. Ternyata kalian memang nggak butuh pelajaran Ibu dan malah mementingkan AC” terlihat jelas wajah Bu Witri yang memerah dan menahan tangis.
Ia pun membereskan buku-buku di mejanya dan bergegas keluar ruangan kelas. Tanpa menoleh ke belakang lagi meninggalkan aku dan teman-temanku yang kebingungan dan merasa bersalah.
“Putri, gimana dong?” Hasan sangat merasa bersalah dan meminta pendapatku.
“Hmm.. Yaudah habis pulang sekolah kita semua minta maaf aja. Sekarang biarin Bu Witri tenang dulu”
Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku dan teman-teman sekelas pun menuju ruangan guru. Bu Witri pun masih berada di mejanya. Kami dengan tulus meminta maaf karena bukan kemauan kami membuat Bu Witri marah. Bu Witri pun meminta maaf juga karena tersulut emosi.