“Saya minta maaf, (tapi aksi Tamary) itu adalah hal yang bodoh untuk dilakukan dan dibanggakan,” kata Frej kepada lembaga penyiaran publik Kan.
“Menyiarkan laporan ini hanya demi mengejar rating adalah tindakan yang tak bertanggung jawab dan merusak,” tuturnya.
Frej mengatakan, liputan TV itu merugikan upaya yang didorong Amerika Serikat untuk secara bertahap menggerakkan Israel dan Arab Saudi menuju hubungan yang lebih normal, seperti halnya kesepakatan diplomatik 2020 dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.
Sampai hari ini, Riyadh tidak mengakui Israel. Arab Saudi pun menyatakan, dibutuhkan penyelesaian tentang masalah kenegaraan Palestina terlebih dulu, sebelum normalisasi hubungan dengan Israel diwujudkan.
Sejak penayangan reportase Tamary itu, tagar “A Jew in Mecca's Grand Mosque” (Seorang Yahudi di Masjidil Haram) menjadi trending di Twitter.