Orang Tua di Myanmar Bikin Pengumuman di Koran, Tak Akui Anak yang Memberontak ke Junta

Ahmad Islamy Jamil
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di Kota Yangon untuk menentang kudeta Myanmar, Maret 2021. (Foto: Reuters)

YANGON, iNews.id – Setiap hari selama tiga bulan terakhir, rata-rata enam atau tujuh keluarga di Myanmar memasang pengumuman atau pemberitahuan di koran-koran milik negara. Isinya cukup membuat terhenyak, yaitu mereka telah memutuskan hubungan dengan putra, putri, keponakan, atau cucu yang secara terbuka menentang junta militer.

Pemberitahuan semacam itu mulai bermunculan di surat kabar Myanmar pada November lalu, setelah Tentara Myanmar mengancam akan mengambil alih properti siapa saja yang menentang kekuasaan junta. Tak hanya itu, militer di sana juga mengancam bakal menangkap orang-orang yang memberikan perlindungan kepada para pengunjuk rasa yang memprotes kudeta sejak setahun lalu.

Ancaman Tentara Myanmar itu lalu disusul dengan sejumlah penggerebekan di rumah-rumah penduduk yang dituduh berpihak kepada kelompok penentang junta.

Lin Lin Bo Bo, mantan penjual mobil yang bergabung dengan kelompok bersenjata yang menentang junta militer, adalah salah satu dari mereka yang kini tak lagi diakui oleh orang tuanya.

“Kami menyatakan bahwa kami tidak mengakui Lin Lin Bo Bo karena dia tidak pernah mendengarkan kehendak orang tuanya,” demikian bunyi pemberitahuan yang disampaikan orang tuanya, San Win dan Tin Tin Soe, di surat kabar pelat merah Myanmar, The Mirror, pada November lalu.

Berdasarkan pantauan Reuters, ada sekitar 570 pemberitahuan seperti itu yang sudah dipublikasikan para keluarga di koran-koran Myanmar sampai hari ini. 

Bo Bo mengatakan, ibunya tak lagi mengakuinya sebagai anak setelah tentara Myanmar mendatangi rumah keluarganya untuk mencarinya. Beberapa hari kemudian, lelaki berusia 26 tahun itu menangis ketika membaca pemberitahuan yang muncul di koran.

“Rekan-rekan saya mencoba meyakinkan saya bahwa keluarga saya tak punya pilihan lain, sehingga terpaksa melakukan itu di bawah tekanan. Tapi tetap saja ini membuat hatiku sangat hancur,” kata Bo Bo, saat berbicara dari perbatasan Thailand-Myanmar, tempat dia tinggal setelah melarikan diri dari kampung halamannya, belum lama ini.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
Internasional
3 hari lalu

Pemimpin Kudeta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing Terpilih Jadi Presiden

Internasional
13 hari lalu

Maskapai Bertumbangan Imbas Perang Timteng, Giliran Vietnam dan Myanmar Pangkas Penerbangan

Nasional
16 hari lalu

Tegas! Prabowo Sebut Polisi Baik dan Tentara Hebat Tuntutan Rakyat, Bukan Ikuti Selera Pimpinan

Nasional
20 hari lalu

Koalisi Masyarakat Dorong Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Diadili di Peradilan Umum

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal