Senada dengan Kovalic, pengamat asal Turki, Tunc Akkoc, menyebut demokrasi juga menjadi alat gebuk lainnya.
"Wacana tentang demokrasi adalah alat tekan AS terhadap negara-negara. Setiap wilayah yang mereka invasi hancur total baik secara fisik maupun spiritual karena mereka membuat tetangga saling bermusuhan," kata Akkoc.
Namun agresi militer langsung bukan satu-satunya cara AS. Negara itu juga menggunakan rayuan ekonomi, sanksi keuangan, infiltrasi budaya, hasutan untuk melakukan kerusuhan, manipulasi pemilu, dan tipu muslihat lain. Tujuan tersembunyinya menumbangkan negara-negara yang bermusuhan secara ideologis. Tindakan itu bahkan diakui mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dalam wawancara dengan CNN.
Mantan anggota DPR AS dari Iowa, Greg Cusack, menggambarkan kebijakan luar negeri negaranya. Sejak awal berdirinya, lanjut Cusack, AS telah membentuk budaya pembajakan yang menganjurkan penjarahan dan penaklukan.
Kemudian, setelah berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan kemenangan Barat, AS menjadi satu-satunya negara adikuasa di dunia. Pada posisi itu AS melihat kesempatan langka untuk membentuk kembali dunia sesuai keinginannya dan berkuasa penuh atau unipolar.
Namun momen unipolar AS hanya berumur pendek dan bergeser ke multipolar setelah kebangkitan dunia timur sosialis yang dimotori Rusia. AS pun khawatir supremasi globalnya bisa melemah. Oleh karena itu, AS akan terus berusaha memperkuat cengkeramannya.