LONDON, iNews.id - Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari, mengagetkan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) karena mereka justru menjadi sasaran pembalasan dari Teheran. Bahkan, mereka mendapat lebih banyak serangan rudal dan drone.
Negara-negara Teluk tidak terlibat dalam serangan mendadak tersebut, bahkan AS dan Israel tidak berkonsultasi lebih dulu kepada mereka. Namun, hanya sehari berselang, pada 1 Maret, enam negara GCC sudah digempur Iran.
Laporan lembaga riset berbasis di Washington, Stimson Center, yang dirilis Rabu lalu menyebut konflik AS-Israel-Iran yang kini memasuki pekan keempat, telah berkembang menjadi perang yang mengerikan dan terus meningkat. Kondisi ini tidak diinginkan oleh satu pun negara-negara teluk.
Parahnya, sejak awal terlihat erangan Iran lebih banyak menyasar infrastruktur sipil, bukan pangkalan militer AS yang diklaim sebagai target utama. Pada hari pertama, rudal Iran atau puing dari sistem pencegat telah menghantam Bandara Dubai, hotel ikonik Burj Al-Arab, Pelabuhan Jebel Ali, hingga kawasan Palm Jumeirah.
Hari itu, Iran meluncurkan 137 rudal dan 209 drone ke Uni Emirat Arab. Serangan itu jelas-jelas merupakan upaya untuk merusak reputasi UEA sebagai pusat pariwisata, bisnis, dan investasi yang aman. Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar juga langsung menjadi sasaran sejak hari-hari pertama perang AS-Israel vs Iran.