Sebaliknya, seumpama kita terpeleset melakukan maksiat, kita seharusnya mengatakan itu perilaku kita pribadi berdasarkan atas kebodohan kita. Sehingga jika demikian, kita kemudian minta ampun/istighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika kita sudah memahami bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah, kita tidak boleh memaksa siapapun untuk mengikuti kehendak kita, baik secara gagasan maupun gerakan, termasuk dalam masalah berdakwah. Jangankan kita, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saja tidak punya otoritas untuk memberikan hidayah kepada seseorang, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: “Sungguh, Engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al-Qashash: 56)
Hadirin,
Merupakan sunnatullah, manusia diciptakan terdiri dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Bahkan beraneka ragam budaya serta agama yang diyakini oleh penduduk yang hidup di bawah kolong langit ini. Semuanya itu hanya Allah yang akan memberikan penilaian. Siapa di antara mereka yang paling mulia? Tentu mereka yang paling takwa. Siapa yang paling takwa, hanya Allah yang paling bisa memberikan penilaian.