Dan shalat zuhur pada hari kedua dikerjakan pada saat bayangan suatu benda seperti bendanya.
ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حين كان ظل كل شئ مِثْلَيْهِ
Kemudian shalat ashar ketika bayangan suatu benda dua kali lipat dari bendanya.
ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ لِوَقْتِهِ الْأَوَّلِ
Kemudian shalat magrib dikerjakan persis pada waktu hari pertama.
ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْل
Kemudian shalat isyak dikerjakan ketika sepertiga malam pertama sudah berlalu.
ِ ثُمَّ صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ أَسْفَرَتْ الْأَرْضُ
Lalu shalat subuh dikerjakan pada saat bumi sudah terang.
Setelah menjelaskan ini semua, terakhir Jibril menoleh kepada Rasulullah saw lalu berpesan:
ثُمَّ الْتَفَتَ إلَيَّ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلَكَ وَالْوَقْتُ فِيمَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ
“Wahai, Muhammad, inilah waktu (shalat) para nabi sebelum kamu, dan waktu shalat tersebut adalah diantara dua waktu ini (awal dan akhir)”
Sedangkan terkait tatacara/teknis pelaksanaan shalat, maka pertama-tama Rasulullah saw mengungkap secara umum bahwa: