"Karena selama ini biasanya dilayani di rumah, jadi pada saat sekolah maunya dilayani juga, kemudian merasa dirinya lebih dibandingkan anak lain," kata Rahma.
Bahkan, penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukkan 22,6% dari anak-anak yang di observasi mengalami gejala depresi dan 18,9% mengalami kecemasan.
Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu 72% anak-anak Jepang merasakan stres akibat Covid-19.
Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan 7,1% anak-anak dalam kelompok usia 3 sampai 17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan, dan sekitar 3,2% pada kelompok usia yang sama menderita depresi.
Ubah Ritme Aktivitas
Menurut Rahma, di Indonesia, implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah ini tentunya berdampak signifikan pada kesehatan mental siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi.