Temuan lain yang mengejutkan adalah pergeseran kelompok usia paling terdampak. Jika sebelumnya gangguan mental paling tinggi terjadi pada usia paruh baya, kini justru kelompok usia 15 hingga 19 tahun menjadi yang paling rentan.
Menurut Santomauro, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah studi Global Burden of Disease terjadi lonjakan tertinggi pada kelompok usia remaja.
Para ahli menilai usia muda merupakan periode penting dalam perkembangan otak, kemampuan sosial, dan intelektual seseorang. Gangguan mental pada fase ini berpotensi memengaruhi kehidupan jangka panjang.
Meski stigma terhadap gangguan mental mulai berkurang dan kesadaran masyarakat meningkat, para ahli menyebut banyak faktor lain yang memperparah kondisi tersebut. Mulai dari tekanan ekonomi, konflik politik, trauma, perang, kekerasan dalam rumah tangga, masalah citra tubuh, diskriminasi, hingga menurunnya hubungan sosial.
Peneliti juga menyoroti minimnya perkembangan layanan kesehatan mental di berbagai negara. Kenaikan jumlah penderita disebut tidak diimbangi dengan perluasan akses layanan kesehatan mental yang memadai.
Para ahli menekankan bahwa kesehatan mental seharusnya menjadi prioritas pemerintah dan otoritas kesehatan dunia.
Selain mencari bantuan profesional, masyarakat juga disarankan menjaga gaya hidup sehat untuk membantu kesehatan mental, seperti menjaga pola makan, tidur cukup, rutin berolahraga, memperkuat hubungan sosial, memiliki hobi, dan menjaga keseimbangan hidup serta pekerjaan.