Dalam studi tersebut, 12 jenis gangguan mental yang diteliti mengalami peningkatan sejak 1990. Gangguan kecemasan tercatat melonjak hingga 158 persen, sementara depresi naik 131 persen.
Selain kecemasan dan depresi, penelitian juga menyoroti gangguan bipolar, skizofrenia, autisme, ADHD, anoreksia, bulimia, dysthymia atau depresi ringan kronis, conduct disorder pada anak dan remaja, hingga gangguan intelektual perkembangan.
Meski anoreksia, bulimia, dan skizofrenia menjadi kategori dengan jumlah paling sedikit, angkanya tetap tergolong besar. Pada 2023, diperkirakan terdapat sekitar 4 juta kasus anoreksia, 14 juta kasus bulimia, dan 26 juta kasus skizofrenia di seluruh dunia.
Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar gangguan mental lebih banyak dialami perempuan. Namun, autisme, ADHD, gangguan perilaku, gangguan kepribadian, dan gangguan intelektual lebih sering ditemukan pada laki-laki.
Studi ini turut memperlihatkan dampak besar pandemi Covid-19 terhadap kesehatan mental masyarakat dunia.
Sebelum pandemi, angka kecemasan dan depresi memang sudah mengalami kenaikan. Namun selama dan setelah pandemi, depresi meningkat tajam dan belum kembali ke level sebelum Covid-19.
Sementara itu, tingkat kecemasan sempat mencapai puncaknya dan tetap tinggi hingga 2023.
Paul Bolton, ilmuwan senior dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, mengatakan data tersebut kemungkinan masih menghadapi persoalan underreporting atau kasus yang tidak terlaporkan. Meski begitu, menurutnya angka yang ditampilkan tetap menjadi gambaran terbaik kondisi kesehatan mental dunia saat ini.