Sederet Fakta Menarik Kota Singkawang, Raih Predikat Kota Paling Toleran

Kota Singkawang memiliki kerukunan antar-umat beragama yang sangat tinggi. Penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Ketika perayaan Cap Go Meh, masyarakat yang menyaksikan pertunjukan tersebut pun tidak hanya masyarakat Tionghoa saja, akan tetapi dari berbagai suku dan agama lainnya juga turut menyaksikan. Begitu pula saat perayaan agama lain, seperti menjelang Lebaran, penduduk lain yang non muslim pun ikut memeriahkan acara. Akulturasi budaya di kota ini sangat kental dengan sikap saling menghormati satu sama lain yang tetap terjaga.
Kota Singkawang dulunya adalah sebuah desa, yang masuk ke dalam wilayah Kesultanan Sambas. Desa Singkawang menjadi ramai sejak para pedagang dan penambang emas dari Tionghoa singgah dan beristirahat ketika dalam perjalanan menuju Monterado.
Orang-orang Tionghoa kemudian menyebut daerah itu dengan istilah San Keuw Jong, karena daerahnya yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna, serta memiliki sungai dan pegunungan. Desa Singkawang terus mengalami perkembangan pesat dari waktu ke waktu.
Pada tahun 1959, Desa Singkawang ditetapkan sebagai bagian dan ibu kota Kabupaten Sambas dengan status Kecamatan Singkawang. Kemudian pada tahun 1981, Kecamatan Singkawang berubah menjadi Kota Administratif Singkawang.
Tujuan perubahan menjadi kota administratif supaya ada peningkatan pelayanan pemerintahan. Kota Administratif Singkawang lantas diusulkan menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II pada tahun 1999. Namun usulan itu belum diterima oleh Pemerintah Pusat.