Sederet Fakta Menarik Kota Singkawang, Raih Predikat Kota Paling Toleran
Keberagaman dan toleransi menjadi ciri khas yang tidak bisa dipisahkan dari Kota Singkawang. Kota ini terdiri dari beragam etnis dan kepercayaan. Namun demikian, masyarakatnya hidup rukun dan penuh toleransi. Penduduk mayoritas Kota Singkawang adalah Tionghoa, Dayak, dan Melayu, sehingga dikenal dengan singkatan Tidayu. Ketiga suku tersebut, bersama dengan etnis dan kepercayaan yang mereka anut, hidup berdampingan secara rukun dan damai.
Bukti toleransi di Singkawang berupa penghargaan Kota Paling Toleran di Indonesia tahun 2018 dari Setara Institute. Selain itu, Singkawang juga menjadi kota dengan kepala daerah perempuan Tionghoa pertama di Indonesia yang bernama Tjhai Chui Mie.
Tjhai Chui Mie menerima kembali penghargaan Singkawang sebagai Kota Tertoleran di tahun 2020. Selain itu, Singkawang menerima Anugerah Kebudayaan PWI pada puncak Peringatan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari 2021 lalu. Berbagai tradisi tahunan khas Tionghoa pun diselenggarakan, seperti Cap Go Meh, Imlek, dan Ceng Beng, bahkan Pawai Tatung.
Salah satu bukti toleransi yang ada di Kota Singkawang dapat dilihat dari tempat-tempat beribadah yang saling berdekatan. Di antaranya adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya dan Masjid Raya Singkawang.
Kedua tempat ibadah ini begitu bersejarah karena telah berusia lebih dari satu abad, dan menjadi saksi keharmonisan masyarakat Singkawang. Vihara Tri Dharma Bumi Raya atau yang dikenal dengan nama Pekong Tua konon telah berusia 200 tahun, sementara Masjid Raya Singkawang telah berdiri sejak tahun 1885 di Kota Amoy.