Terapkan Tumpes Kelor, Belanda Pernah Buru dan Bersihkan Keturunan Untung Surapati di Jatim
Khawatir dengan nasib saudaranya, Bupati Malang Malayakusuma meminta Kartanagara mengungsi ke Malang. Patih Porong Natayuda, Kartayuda dari Panayungan dan orang Bali Wayan Kutang juga mengungsi ke Malang. Semuanya para pengikut Bupati Lumajang Kartanagara.
Belanda akhirnya berhasil menduduki Lumajang tanpa perlawanan berarti akhir Juni 1776. Sebuah pos militer langsung didirikan. Sebanyak 12 belas orang prajurit Eropa dan seratus pasukan dari Banger (Probolinggo) disiagakan untuk menjaga Lumajang.
Operasi militer langsung diarahkan ke Kabupaten Malang yang dianggap sebagai tempat berkumpulnya para pemberontak. Belanda membuat sayembara. Siapa pun yang mampu menangkap Pangeran Singasari dan putranya hidup atau mati dihadiahi 1.000 dollar Spanyol.
Sementara kepala Bupati Malang Malayakusuma dan keluarganya dibandrol 500 dollar Spanyol. Perang meletus. Malayakusuma mengerahkan 800 pasukan kavaleri yang dipimpin Tirtanagara, saudara termudanya. Mereka menjaga perbatasan Malang dan Lumajang.
Dalam serangan gerilya di kawasan gunung Mandaraka, ratusan orang orang Madura dan Surabaya dari pihak Kompeni mati terbunuh. Catatan VOC 3215 menyebut Tirtanagara juga terluka. Pundaknya tertembak dan salah seorang anaknya tewas. Namun, dia berhasil menyelamatkan diri dengan berkuda.