Terapkan Tumpes Kelor, Belanda Pernah Buru dan Bersihkan Keturunan Untung Surapati di Jatim
Pangeran Singasari memilih keluar istana dan memberontak. Mangkubumi dan Raden Mas Sahid (Mangkunegara), dua saudaranya yang didukung Belanda, dia lawan. Dia mengajaknya serta putranya bernama Raden Mas ke Malang untuk berkoalisi dengan Bupati Malang Malayakusuma.
Kolaborasi antara Pangeran Mataram Singasari dengan keturunan Surapati membuat Belanda ketar-ketir. Tidak hanya berhadapan dengan pasukan Pangeran Mataram Singasari, ekspedisi militer Belanda juga akan menghadapi kekuatan trah Surapati yang berkuasa di wilayah Lumajang, Malang, Antang (Ngantang) dan Porong.
"Kolaborasi antara Singasari dan Malayakusuma di Malang sebenarnya adalah kebangkitan kembali aliansi lama antara kedua keluarga yang telah dijalin sejak enam puluh tahun sebelumnya," kata Sri Margana dalam buku "Ujung Timur Jawa, 1763- 1813 Perebutan Hegemoni Blambangan".
Belanda urung angkat senjata. Mereka tidak ingin gegabah. Jalur diplomasi lebih diutamakan. Dengan baik-baik Komandan Belanda di Pasuruan, Kapten Casper Ledowijk Tropponegro meminta Kartanagara (Bupati Lumajang), untuk tunduk sekaligus tidak melindungi Pangeran Singasari dan putranya.
Melalui surat Bupati Banger (Sekarang Probolinggo) Puspakusuma yang kemudian dikirimkan ke Kartanagara, Gubernur Belanda di Semarang menyatakan bersedia melupakan masa lalu. Belanda juga memberi ampunan atas seluruh pelanggaran yang pernah dilakukan kakek Kartanagara (Surapati).