Terapkan Tumpes Kelor, Belanda Pernah Buru dan Bersihkan Keturunan Untung Surapati di Jatim
Dengan janji akan diperlakukan dengan baik, Kartanagara juga diminta datang ke benteng Belanda di Pasuruan. Melalui selembar surat balasan, Kartanagara menjawab, "Aku telah menerima suratmu dan memahami isinya, di mana engkau menasihatiku untuk tunduk pada Kompeni, (dan) jawabanku adalah aku tidak bisa melakukannya karena Allah tidak menghendaki hal itu".
Isi sura itu membuat Belanda naik pitam. Surat kembali dikirim berisi ultimatum. Jika Kartanagara tidak segera datang ke Pasuruan, maka Lumajang akan diserang. Bukannya gentar, Kartanagara justru membalas dengan kalimat lebih tajam.
"Selama kerisnya masih runcing, ia (Kartanagara) berjanji akan memerangi Kompeni jika mereka masuk ke wilayahnya," tulis Sri Margana dalam buku "Ujung Timur Jawa, 1763-1813 Perebutan Hegemoni Blambangan".
Bupati Lumajang Kartanagara menyiapkan perang. Barikade dan jebakan didirikan di sepanjang jalan menuju Lumajang. Para prajurit Lumajang juga diperintahkannya berpatroli di wilayah perbatasan Lumajang- Banger. Bahkan para prajurit Lumajang menyerang pos terdepan VOC di Adiraga. Seketika itu juga Gubernur Belanda di Semarang mengeluarkan instruksi menangkap Bupati Lumajang Kartanagara hidup atau mati.
Operasi militer besar-besaran disiapkan. Gezaghebber Surabaya atau pucuk pimpinan VOC di Surabaya memerintahkan Kapten Blanke, komandan Belanda di Blambangan untuk mengirim lebih banyak pasukan yang terdiri tas prajurit Eropa dan orang Madura.